Tampilkan postingan dengan label jurnalism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnalism. Tampilkan semua postingan

Perkembangan citizen journalism di indonesia

Citizen journalism adalah kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita. Tipe jurnalisme seperti ini akan menjadi paradigma dan tren baru tentang bagaimana pembaca atau pemirsa membentuk informasi dan berita pada masa mendatang. Yang mencari atau menyampaikan berita tersebut orang biasa dan bukan seseorang yang berprofesi sebagai wartawan. Bisa saja, profesi seseorang itu adalah guru, mahasiswa, tukang ojeg, dan sebagainya.

Citizen journalism berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi, media terutama internet. Karena setiap orang kini bisa menulis dan menyampaikan tulisannya kepada khalayak dengan mudah.
Saat ini, di Indonesia citizen journalism berkembang  cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya blog yang ada di Indonesia dan dibuat oleh masyarakat Indonesia. Keberadaan blog tersebut telah menandakan citizen journalism merupakan satu fenomena yang diminati dan akan terus berkembang dalam masyarakat. Keterbukaan dalam hal pengaksesan ataupun penyampaian informasi yang dimiliki oleh citizen journalism yang seiring dengan perkembangan jurnalisme online yang terus meningkat, menyebabkan keberadaan citizen journalism akan terus meningkat.
Berkembangnya jurnalisme online di Indonesia saat ini, dapat semakin menguatkan perkembangan citizen journalism. Dalam citizen journalism, masyarakat dapat membahas hal-hal yang tengah “hangat” dalam masyarakat dalam segala aspek. Kini, minat masyarakat pada jurnalisme online terus meningkat. Jurnalisme online telah menjadi prioritas bagi masyarakat dalam mengakses informasi. Hal ini menyebabkan perkembangan dari citizen journalism akan terus meningkat.
Perkembangannya di Indonesia dipicu ketika pada tahun 2004 terjadi tragedi Tsunami di Aceh yang diliput sendiri oleh korban tsunami. Terbukti berita langsung dari korban dapat mengalahkan berita yang dibuat oleh jurnalis profesional. Bahkan video yang dibuat warga saat kejadian ditayangkan oleh semua media televisi.
Setelah kejadian tersebut, makin banyak masyarakat indonesia yang melakukan hal yang sama, dengan memberikan informasi yang akurat, dan informasi yang berada disekitarnya.

The 7 Commandments for New Journalists


The 7 Commandments for New Journalists

1. There is no problem with Journalism.
Jurnalistik adalah sebuah bidang yang terkait dengan pers, berita dan wartawan. Dan berita merupakan salah satu kebutuhan sehari-hari bagi setiap orang siapa pun dan dimana pun yang tidak akan ada habisnya. Satu berita selesai dipublikasikan, maka akan muncul lebih banyak berita-berita lain yang menunggu untuk dipublikasikan. Jadi jangan takut terhadap bidang jurnalisme ini.
Masalah yang mungkin timbul adalah pada model bisnis yang mendukung jurnalisme itu sendiri. Lembaga sosial dan wahana komunikasi yang melaksanakan kegiatan jurnalistik adalah pers. Seperti yang dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (1) UU Pokok Pers No. 40 Tahun 1999. Pers dalam arti luas disebut dengan media massa (cetak, auditif, audiovisual, dan online)

2. People pay for high quality journalism.
Dunia perkembangan media massa secara kuantitas tidak dibarengi dengan kualitas. Jurnalisme beraroma kekerasan dan sensualitas kian mewarnai dunia media massa saat ini. Bagaimana tingkat kadar intelektual masyarakat meningkat apabila terus disuguhkan karya-karya jurnalistik yang tidak berbobot seperti itu.

Karena itu, jadilah jurnalis-jurnalis  yang berkualitas tinggi yang memiliki fisik yang kuat dan berintelektual tinggi agar mampu membuat karya jurnalistik yang tajam dan baik. Dengan jurnalisme yang berkualitas tinggi, orang-orang pun tak kan segan untuk membayar karya tersebut. Lihatlah The Economist, The New York Times, Wall Street Journal, New Yorker, Atlantic Monthly, Monocle.

3.As long as you will cover the news in a no-bullshit way, you will do fine.
Selama kita membuat berita dengan baik dan benar, maka orang-orang akan datang untuk membaca berita kita.

4.Be a good, unique, and valuable journalist.
Jadilah seorang jurnalis yang baik. Membuat karya-karya yang unik, lain dari yang lain. Dan jadilah wartawan yang berharga.

5.If you want to do journalism, launch a blog right now and get on with it.
 Jika kamu ingin menjadi seorang jurnalis, maka buatlah sebuah blog dari sekarang dan berkaryalah lewat blog tersebut. Sajikan berita-berita yang up to date, menarik dan berkualitas. Buatlah artikel-artikel atau tulisan-tulisan yang berkualitas tinggi dan unik.

6.Learn how to interact with people online
Kemudian belajarlah cara berinteraksi lewat blog tersebut. Salah satunya dengan menyedian kolom komentar untuk para pembaca, mengadakan forum tanya-jawab, tersambung dengan jejaring sosial seperti facebook dan twitter atau yang lainnya sehingga kamu bisa mendorong partisipasi mereka dan melibatkan orang-orang di media sosial.

7.Read good stuff.
Bacalah hal-hal yang baik. Dan jangan hanya jadi followers terhadap hal-hal baru, tetapi carilah hal baru yang masih orisinil dan jadi dirimu sendiri.
Bacalah posting blog orang-orang ini Jay Rosen, Nicholas Carr, Clay Shirky


Sumber :
http://romelteamagazine.blogspot.com/
http://bighow.com/journalism

Makalah Bahasa Jurnalistik

TUGAS UAS
 Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Jurnalistik



Oleh:
Mukhlis Dinillah
1210405065
Ilmu Komunikasi Jurnalistik / B / VI



JURUSAN JURNALISTIK
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2013



KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah S.W.T  karena telah memberikan kesempatan, kekuatan dan pengetahuan sehingga saya mampu mengerjakan tugas akhir semester ini dengan semaksimal mungkin.dan taklupa kepada dosen bahasa jurnalistik Bapak AS Haris Sumadiria, M.Si, yang telah memberikan pengetahuanya kepada saya sehingga saya bisa mengerjakan tugas makalah ini dengan baik.
Saya menyadari makalah yang saya buat masih jauh dari kesemppurnaan tapi dalam pengerjaan makalah ini, saya sudah berusaha dengan sebaik mungkin, dan mencurahkan semua kemampuan saya. Saya berharap makalah yang saya buat ini bisa bermamfaat bagi saya sendiri khususnya bagi orang banyak.


Bandung,02 mei 213

Penulis
Mukhlis Dinillah









DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR……………………………………..............................................2
DAFTAR ISI……………………....………………………............................................3
BAB I…………………………………………………………………………………...4
A.    Latar belakang .....................................................................................................4
B.    Rumusan masalah ...............................................................................................4
C.    Tujuan .................................................................................................................4
BAB II ............................................................................................................................5
Pembahasan ....................................................................................................................5
A.    Analisis berita......................................................................................................5
•    Uraiyan berita :  lead .....................................................................................5
•    Teori yang dipakai : karakteristik bahasa jurnalistik......................................5
•    Kesimpulan.....................................................................................................6
B.    Analisis berita......................................................................................................7
•    Uraiyan berita : lead ......................................................................................7
•    Teori yang di pakai : karakteristik bahasa jurnalistik.....................................7
•    Kesimpulan ....................................................................................................8
BAB III
Kesimpulan ....................................................................................................................9
Daftar pustaka...............................................................................................................10






BAB I

A.    Latar belakang
Begitu banyak surat kabar di indonesia dari mulai surat kabar harian, mingguan dan bulanan sperti yang kita tau, tidak semua surat kabar memenuhi syarat dan karakteristik bahasa jurnalistik maka dari itu saya melakukan analisis berita terutama dari judul dan lead yang ada dalam berita tersebut . karena menurut analisis saya judul dan lead adalah unsur utama yang dapat menarik perhatian si pembaca. Jadi apabila judul dan lead tidak memenuhi syarat karakteristik bahasa jurnalistik itu semua akan berpengaruh kepada isi dan uraiyan berita.

B.    Rumusan masalah
•    Meneliti apakah penulisan judul dan lead masih ada kesalahan
•    Meneliti apakah judul dan lead sudah memenuhi syarat karakteristik bahasa jurnalitik
•    Memahami apa yang jadi kesalahan dalam judul dan lead tersebut
•    Mempelajari kebenaran yang ada dalam judul dan lead tersebut

C.    Tujuan
Tujuan dari analisis berita yang saya lakukan adalah supaya kita sebagai calon jurnalisme bisa menjadi jurnalis yang sempurna dari bidang ahlak maupun akademik, khususnya ketika kita menjadi seorang wartawan kita mampu meberikan informasi yang sebenar-benarnya dan memenuhi syart kaidah bahasa jurnalistik sehingga apa yang kita paparkan kepada masyarakat bukan hanya informasi belaka tapi juga mengandung karya jurnalistik yang di akui kualitas dan kuantitasnya.





BAB II
BANDUNG, TRIBUN -
Barisan belakang Maung Bandung harus lebih rapat dan sigap ketika berhadapan dengan Sriwjaya FC ( SFC ), di Stadion Si Jalak Harupat, Rabu (7/12).
JAKARTA, TRIBUN -
Saking terharunya berhasil meraih medali emas, pesilat putri indonesia Amelia Roring (21) jatuh pingsan. Gadis manado itu berhasil menang telak dengan skor 5 – 0 atas pesilat asal Malaysia, Siti Rahmah Mohamed Nasir, dalam tanding final pencak silat SEA Games XXVI di Padepokan pencak silat Indonesia, TMII Jakarta, Kamis (17/11).
NAPOLI sedang berada di langit ketujuh setelah berhasil lolos dari babak penyisihan grup liga Champion dan menuju ke babak 16 besar di kompetisi paling elite di Eropa tersebut. Sukses itu ternyata menghadirkan momentum keindahan buat The Napolitan.
DUA hasil tak meyakinkan kala bermain di kandang, membuat Luis Carlos Almeida da Cunha cukup geram. Tak pelak, kala Manchester United menjamu Newcastle United di Stadion Old Trafford, Sabtu (26/11) malam, ia sudah merencanakan serangakain permainan indah agar timnya meraup kemenangan.
SEBANYAK 16 tim yang lolos ke 16 besar liga Champion tengah harap-harap cemas, Jantung para pelatih dan pemain berdebar-debar untuk menunggu calon lawan di babak knokout pertama dalam drawing 16 besar yang akan digelar di House of  European Football di Kota Nyon, Swiss, jumat (16/12).








A.    Karakteristik Bahsa Jurnalistik
Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang di gunakan oleh para wartawan, redaktur, atau pengelola, media masa dalam menyusun dan menyajikan, memuat, menyiarkan, dan menayangkan berita serta laporan peristiwa atau pernyataan yang benar, actual, penting dan atau menarik dengan tujuan agar mudah dipahami isinya dan cepat di tangkap maknanya.(sumadiria, 2010: 1-7)
Secara spesifik, bahsa jurnalistik dapat di bedakan menurut bentuknya, yaitu bahasa jurnalistik surat kabar, bahasa jurnalistik tabloid, bahasa jurnalistik majalah, bahas jurnalistik radio siarana, bahsa jurnalistik televise, dan bahasa jurnalistik media media online internet.
Dari buku Drs. AS Haris Sumadiria M.SI Bahasa Jurnalistik Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis di kemukakan ada 17 ciri utama bahasa jurnalistik, yakni sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghidari kata tutur, menghindari kata dan istilah asing, pilihan kata (diksi) yang tepat, mengutamakan kalimat aktif, menghindari kata atau istilah teknis, tunduk kepada kaidah etika. Namun pada tugas ini saya akan menganalisis penulisan lead dimedia cetak Bandung Ekspres edesi kamis 13 oktober, rabu 12 oktober 2011, selasa 11 oktober 2011, dan sabtu 8 oktober 2011. Pada rubric olah raga, akan mengemukakan 4 teori yakni singkat, jelas, menarik, dan sedrhana. Dari17 teori karakteristik bahsa jurnalistik yang ada. Berikut rinciannya.

•    PEMBAHASAN
SEBANYAK 16 tim yang lolos ke 16 besar liga Champion tengah harap-harap cemas, Jantung para pelatih dan pemain berdebar-debar untuk menunggu calon lawan di babak knokout pertama dalam drawing 16 besar yang akan digelar di House of  European Football di Kota Nyon, Swiss, jumat (16/12).
1.    Sederhana
Sederhana berarti selalu mengutamakan dan memilih kata atau kalimat yang paling banyak di ketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen. Kata-kata dan kalimat yang rumit tabu digunakan dalam bahasa jurnalistik. ( Lead diatas belum termaksud sederhana karena ada beberapa kata yang kurang diketahui maknanya oleh khlayak yang kurang mengerti sepak bola )


2.    Singkat
Singkat berarti langsung ke pokok masalah, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga. ( Lead yang diatas sudah termaksud singkat karena langsung kepada pokok masalah yang dialami )
3.    Padat
Setiap kalimat dan paragraph yang di tulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca.   (  Lead yang diatas sudah padat karena sudah mencakup informasi yang penting untuk khalayak, khususnya pencinta sepak bola )
4.    Lugas
Lugas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus manghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingungkan khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan
persepsi dan kesalahan konklusi. (  Lead yang diatas masih kurang lugas karena masih ada kalimat yang membingungkan pembaca )
5.    Jelas
Jelas berarti mudah di tangkap maksudnya tidak baur dan kabur. ( Lead yang sudah jelas karena kata – katanya tidak baur dan kabur )
6.    Jernih
Jernih berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negative seperti prasangka atau fitnah. ( Lead yang diatas sudah jernih karena menjelaskan tempat dan waktu )
7.    Menarik
Bahasa jurnalistik harus menarik. Menarik artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian pembaca, memicu selara pembaca. Bahasa jurnalistik berpijak pada prinsip: ( Lead yang diatas sudah menarik karena mengandung berita yang ditunggu – tunggu oleh khalyak, khususnya penggemar sepak bola )
8.    Demokratis
Demokratis dalam bahasa jurnalistik tidak mengenai tingkatan, pangkat, kasta yaitu bahasa jurnalistik memperlakukan siapa pun apakah wakil DPR ataukah tukang ojek, bahkan pengemis dan pemulung secara sama. ( Lead yang diatas sudah termasuk dalam demokratis )



9.    Populis
Populis berarti setiap kata, istilah, atau kalimat yang tidak asing (akrab) di telinga, di mata, dan di pikiran khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Yaitu bahasa yang akrab diterima oleh semua lapisan masyarakat dalam memahaminya. ( Lead yang diatas sudah termasuk karakteristik populis karena kalimat yang digunakan sering terdengar ditelinga masyarakat )
10.    Logis
Logis berarti apa pun yang terdapat pada kata, istilah, kalimat, atau paragraph jurnalistik harus dapat diterima tanpa adanya pertentangan dengan akal sehat. Sekaligus mencerminkan nalar. ( Lead yang diatas sudah termasuk karakteristik logis karena dapat diterima dengan akal sehat )
11.    Gramatikal
Gramatikal berarti kata, istilah, atau kalimat apa pun yang dipakai dan dipilih dalam bahasa jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku. Bahasa baku yatu bahasa resmi yang sesuai dengan tata bahasa serta pedoman ejaan yang disempurnakan berikut pedoman pembentuk istilah yang menyertainya. ( Lead yang diatas sudah termasuk karakteristik gramatikal karena ejaan – ejaan yang digunakan sudah benar.
12.    Menghindari kata tutur
Kata tutur ialah kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal, yaitu kata yang diucapkan secara bebas sejauh pihak yang diajak bicara bisa memahami dan menagkap maksud atau makna pembicaraan tersebut. ( Lead yang diatas sudah termasuk karkteristik menghindari kata tutur karena pembaca dapat memehaminya )
13.    Menghindari kata dan istilah asing
Berita ditulis untuk dibaca atau di dengar, pembaca atau pendengar harus tahu arti dari makna setiap kata yang dibaca  dan didengar. Dan biasanya berita banyak diselipi kata-kata asing, yaitu biasanya yang memahami makna itu sendiri hanya segelintir orang. ( Lead diatas belum termasuk dalam karakteristik menghindari kata dan istilah asing karena masih ada diselipi kata – kata asing )

14.    Pilih kata (diksi) yang tepat
Pilih kata (diksi) yang tepat yaitu kalimat yang disusun tidak hanya produktif tetapi juga tidak keluar dari asas efektivtas, yaitu setiap kata yang dipilih, harus tepat dan akurat sesuai dengan tujuan  pesan pokok yang ingin disampaikan kepada kahalayak. ( Lead yang diatas sudah termasuk karakteristik pilih kata (diksi) yang tepat karena sesuai dengan tujuan pesan yang ingin disampaikan )
15.    Menguatkan kalimat aktif
Kalimat aktif yang sifatnya mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca dari pada kalimat yang pasif. Kalimat aktif juga mempermudah dan memperjelas pemahaman sehingga tidak menyesatkan dan mengaburkan pemahaman. ( Lead yang diatas masih kurang jelas karena hanya segelintir orang saja yang mengerti beberapa kata yang ada pada berita tersebut )
16.    Menghindari kata atau istilah tekhnis
Karena ditujukan untuk semua lapisan masyarakat, maka bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, dan yang paling penting tidak membuat pusing khalayak pembaca. ( Lead yang diatas masih belum memenuhi semua karakteristik menghindari kata dan istilah teknis tapi ada beberapa yang sudah termasuk )
17.    Tunduk pada kaidah etika
Tunduk pada kaidah etika adalah salah satu fungsi utama pers yaitu, edukasi, mendidik, fungsi ini bukan saja harus tercermin pada materi atau isi berita, laporan gambar, dan artikel-artikelnya, melainkan harus tampak pada bahasanya. ( Lead yang diatas adalah lead yang kata – katanya menghibur tetapi masih beretika.

BANDUNG, TRIBUN -
Barisan belakang Maung Bandung harus lebih rapat dan sigap ketika berhadapan dengan Sriwjaya FC ( SFC ), di Stadion Si Jalak Harupat, Rabu (7/12)

.
1.    Sederhana
Sederhana berarti selalu mengutamakan dan memilih kata atau kalimat yang paling banyak di ketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen. Kata-kata dan kalimat yang rumit tabu digunakan dalam bahasa jurnalistik. ( Lead yang diatas sudah termasuk dalam karakteristik sederhana karena maknanya di ketahui oleh khlayak pembaca )

2.    Singkat
Singkat berarti langsung ke pokok masalah, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga. ( Lead yang diatas sudah termasuk dalam karakteristik singkat karena langsung membahas kepada pokok masalah )
3.    Padat
Setiap kalimat dan paragraph yang di tulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca. ( Lead yang diatas sudah termasuk dalam karakteristik padat karena memuat informasi penting )
4.    Lugas
Lugas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus manghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingungkan khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi. ( Lead yang diatas sudah termasuk dalam karakteristik lugas karena kalimat yang digunakan tidak membingungkan khalayak pembaca )
5.    Jelas
Jelas berarti mudah di tangkap maksudnya tidak baur dan kabur. ( Lead yang diatas sudah termasuk dalam karakteristik jelas karena kalimat yang di gunakan tidak kabur )
6.    Jernih
Jernih berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negative seperti prasangka atau fitnah. ( Lead yang digunakan termasuk karakteristik jernih karena beritanya transparan dan tembus pandang )

7.    Menarik

Bahasa jurnalistik harus menarik. Menarik artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian pembaca, memicu selara pembaca. Bahsa jurnalistik berpijak pada prinsip: menarik benar dan baku. ( Lead yang diatas sudah termasuk karakteristik menarik karena mampu membangkitkan minat pembaca )
8.    Demokratis
Demokratis dalam mbahasa jurnalistik tidak mengenai tingkatan, pangkat, kasta yaitu bahasa jurnalistik memperlakukan siapa pun apakah wakil DPR ataukah tukang ojek, bahkan pengemis dan pemulung secara sama. ( Lead yang diatas sudah termasuk karakteristik demokratis )



9.    Populis
Populis berarti setiap kata, istilah, atau kalimat yang tidak asing (akrab) di telinga, di mata, dan di pikiran khalayak pembaca, peandengar, atau pemirsa. Yaitu bahasa yang akrab diterima oleh semua lapisan masyarakat dalam memahaminya. ( Lead yang diatas sudah termasuk karakteristik populis karena kata – kata yang di gunakan tidak asing ditelinga dan mata pembaca )
10.    Logis
Logis berarti apa pun yang terdapat pada kata, istilah, kalimat, atau paragraph jurnalistik harus dapat diterima tanpa adanya pertentangan dengan akal sehat. Sekaligus mencerminkan nalar. ( Lead yang diatas sudah termasuk dalam karakteristik logis karena kalimat yang ditulis dapat diterima dengan akal sehat )
11.    Gramatikal
Gramatikal berarti kata, istilah, atau kalimat apa pun yang dipakai dan dipilih dalam bahasa jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku. Bahasa baku yatu bahasa resmi yang sesuai dengan tata bahasa serta pedoman ejaan yang disempurnakan berikut pedoman pembentuk istilah yang menyertainya. ( Lead yang diatas sudah termasuk karakteristik gramatikal karena tata bahasanya baku dan resmi yang sesuai tata bahasa )
12.    Menghindari kata tutur
Kata tutur ialah kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal, yaitu kata yang diucapkan secara bebas sejauh pihak yang diajak bicara bisa memahami dan menagkap maksud atau makna pembicaraan tersebut. ( Lead yang diatas sudah termasuk karakteristik menghindari kata tutur karena pembaca dapat menangkap maksud atau makna pembicaraan tersebut )
13.    Menghindari kata dan istilah asing
Berita ditulis untuk dibaca atau di dengar, pembaca atau pendengar harus tahu arti dari makna setiap kata yang dibaca  dan didengar. Dan biasanya berita banyak diselipi kata-kata asing, yaitu biasanya yang memahami makna itu sendiri hanya segelintir orang. ( Lead yang diatas sudah termasuk karakteristik menghindari kata dan istilah asing karena berita yang disampaikan dapat ditangkap dengan baik oleh pembaca )
14.    Pilih kata (diksi) yang tepat
Pilih kata (diksi) yang tepat yaitu kalimat yang disusun tidak hanya produktif tetapi juga tidak eluar dari asas efektivtas, yaitu setiap kata yang dipilih, harus tepat dan akurat sesuai dengan tujuan  pesan pokok yang ingin disampaikan kepada kahalayak. ( Lead yang diatas sudah sesuai dengan karakteristik pilih kata diksi yang tepat karena kalimat yang disusun akurat dengan tujuan pesan pokok yang ingin disampaikan )

15.    Menguatkan kalimat aktif
Kalimat aktif yang sifatnya mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca dari pada kalimat yang pasif. Kalimat aktif juga mempermudah dan memperjelas pemahaman sehingga tidak menyesatkan dan mengaburkan pemahaman. ( Lead yang diatas menggunakan kalimat aktif agar mempermudah dan memperjelas pemahaman kepada pembaca )
16.    Menghindari kata atau istilah tekhnis
Karena ditujukan untuk semua lapisan masyarakat, maka bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, dan yang paling penting tidak membuat pusing khalayak pembaca. ( Lead yang diatas sudah temasuk dalam semua karakteristik menghindari kata atau istilah teknis )
17.    Tunduk pada kaidah etika
Tunduk pada kaidah etika adalah salah satu fungsi utama pers yaitu, edukasi, mendidik, fungsi ini bukan saja harus tercermin pada materi atau isi berita, laporan gambar, dan artikel-artikelnya, melainkan harus tampak pada bahasanya. ( Lead yang digunakan sudah tunduk pada kaidah etika karena tidan memberikan nilai negatif pada pembacanaya )

KESIMPULAN
Kesimpulan dari analisis dari dua berita dan surat kabar tersebuta adalah ternyata masih banyak sekali surat kabar yang melakukan kesalahan-kesalahan, meskipun itu kesalahan kecil tapi akan menjadi kesalahan besar bagi kualitas seorang wartawan tersebut. Ini di akibatkan dari para wartawan yang tidak mempunyai pengetahuan yang luas tentang jurnalistik sehingga karya yang di hasilkan tidak memiliki bobot kualitas dan kuatitas yang baik. Dari segi perbandingan antara berita ke satu dan berita ke dua ternyata masih banyak kesalahan yang di lakukan dalam menulis berita contohnya dari segi lead yang tidak lengkap sehingga tidak memiliki kejelasan informasi.dalam hal ini wartawan yang berperan aktif untuk menyajikan sebuah berita yang baik dan benar jadi apabila ada kesalahan dalam penulisan berita dan tidak memenuhi karakteristik wartawan dan media surat kabar nya pun memiliki andil besar dalam kesalahan tersebut. Karena seorang wartawan itu bisa menjadi nabi apabila bisa memberikan informasi yang sebenar-benarnya kepada khalayak, dan bisa menjadi iblis apabila memberikan informasi yang salah kepada khalayak.


Daftar pustaka
Drs. Haris Sumadiria M.Si. Bahasa Jurnalistik


Karakteristik Bahasa Jurnalistik

Karakteristik Bahasa Jurnalistik

Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang di gunakan oleh para wartawan, redaktur, atau pengelola, media masa dalam menyusun dan menyajikan, memuat, menyiarkan, dan menayangkan berita serta laporan peristiwa atau pernyataan yang benar, actual, penting dan atau menarik dengan tujuan agar mudah dipahami isinya dan cepat di tangkap maknanya.(sumadiria, 2010: 1-7)
Secara spesifik, bahsa jurnalistik dapat di bedakan menurut bentuknya, yaitu bahasa jurnalistik surat kabar, bahasa jurnalistik tabloid, bahasa jurnalistik majalah, bahas jurnalistik radio siarana, bahsa jurnalistik televise, dan bahasa jurnalistik media media online internet.
Dari buku Drs. AS Haris Sumadiria M.SI Bahasa Jurnalistik Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis di kemukakan ada 17 ciri utama bahasa jurnalistik, yakni sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghidari kata tutur, menghindari kata dan istilah asing, pilihan kata (diksi) yang tepat, mengutamakan kalimat aktif, menghindari kata atau istilah teknis, tunduk kepada kaidah etika. Namun pada tugas ini saya akan menganalisis penulisan lead dimedia cetak Bandung Ekspres edesi kamis 13 oktober, rabu 12 oktober 2011, selasa 11 oktober 2011, dan sabtu 8 oktober 2011. Pada rubric olah raga, akan mengemukakan 4 teori yakni singkat, jelas, menarik, dan sedrhana. Dari17 teori karakteristik bahsa jurnalistik yang ada. Berikut rinciannya.
1.    Sederhana
Sederhana berarti selalu mengutamakan dan memilih kata atau kalimat yang paling banyak di ketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen. Kata-kata dan kalimat yang rumit tabu digunakan dalam bahasa jurnalistik.
2.    Singkat
Singkat berarti langsung ke pokok masalah, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga.
3.    Padat
Setiap kalimat dan paragraph yang di tulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca.
4.    Lugas
Lugas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus manghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingungkan khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi.
5.    Jelas
Jelas berarti mudah di tangkap maksudnya tidak baur dan kabur.
6.    Jernih
Jernih berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negative seperti prasangka atau fitnah.



7.    Menarik
Bahsa jurnalistik harus menarik. Menarik artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian pembaca, memicu selara pembaca. Bahsa jurnalistik bearpijak pada prinsip: menarik benar dan baku.
8.    Demokratis
Demokratis dalam mbahasa jurnalistik tidak mengenai tingkatan, pangkat, kasta yaitu bahasa jurnalistik memperlakukan siapa pun apakah wakil DPR ataukah tukang ojek, bahkan pengemis dan pemuling secara sama.
9.    Populis
Populis berarti setiap kata, istilah, atau kalimat yang tidak asing (akrab) di telinga, di mata, dan di pikiran khalayak pembaca, peandengar, atau pemirsa. Yaitu bahasa yang akrab diterima oleh semua lapisan masyarakat dalam memahaminya.
10.    Logis
Logis berarti apa pun yang terdapat pada kata, istilah, kalimat, atau paragraph jurnalistik harus dapat diterima tanpa adanya pertentangan dengan akal sehat. Sekaligus mencerminkan nalar.
11.    Gramatikal
Gramatikal berarti kata, istilah, atau kalimat apa pun yang dipakai dan dipilih dalam bahasa jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku. Bahasa baku yatu bahasa resmi yang sesuai dengan tata bahasa serta pedoman ejaan yang disempurnakan berikut pedoman pembentuk istilah yang menyertainya.
12.    Menghindari kata tutur
Kata tutur ialah kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal, yaitu kata yang diucapkan secara bebas sejauh pihak yang diajak bicara bisa memahami dan menagkap maksud atau makna pembicaraan tersebut.
13.    Menghindari kata dan istilah asing
Berita ditulis untuk dibaca atau di dengar, pembaca atau pendengar harus tahu arti dari makna setiap kata yang dibaca  dan didengar. Dan biasanya berita banyak diselipi kata-kata asing, yaitu biasanya yang memahami makna itu sendiri hanya segelintir orang.



14.    Pilih kata (diksi) yang tepat
Pilih kata (diksi) yang tepat yaitu kalimat yang disusun tidak hanya produktif tetapi juga tidak eluar dari asas efektivtas, yaitu setiap kata yang dipilih, harus tepat dan akurat sesuai dengan tujuan  pesan pokok yang ingin disampaikan kepada kahalayak.
15.    Menguatkan kalimat aktif
Kalimat aktif yang sifatnya mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca dari pada kalimat yang pasif. Kalimat aktif juga mempermudah dan memperjelas pemahaman sehingga tidak menyesatkan dan mengaburkan pemahaman.
16.    Menghindari kata atau istilah tekhnis
Karena ditujukan untuk semua lapisan masyarakat, maka bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, dan yang paling penting tidak membuat pusing khalayak pembaca.
17.    Tunduk pada kaidah etika
Tunduk pada kaidah etika adalah salah satu fungsi utama pers yaitu, edukasi, mendidik, fungsi ini bukan saja harus tercermin pada materi atau isi berita, laporan gambar, dan artikel-artikelnya, melainkan harus tampak pada bahasanya.

B.    Analisis teori

Mengacu pada buku Drs. AS Haris Sumadiria M.SI Bahasa Jurnalistik Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis. Sejatinya sebuah berita harus sederhana, singkat, jelas dan menarik. Dalam penulisan pemilihan kata-kata dan kalimat agar tidak membuat bingung khalayak pembaca.

1.    Jelas
Jelas berarti mudah di tangkap maksudnya tidak baur dan kabur.

Contoh : Kita Harus Menang (Bandung Ekspres hal-20)
•    Jakarta- Sprit tempur para penggawa Indonesia meninggi menjelang bentrok superkrusial lawan Qatar pada kualifikasi piala dunia 2014 zona Asia grup E. malam ini, saat menjamu Qatar, Hamka Hamjah dkk barjanji bermain habis-habisan demi menjaga peluang lolos ke putaran berikutnya.( Sabtu 8 Oktober 2011 Bandung Ekspres hal-20)
Apabila mengacu pada teori bahasa dan karakteristik jurnalistik ada beberapa kata yang tidak Jelas seperti dkk dan meninggi seperti berikut ini.
•    Jakarta- Sprit tempur para penggawa Indonesia meningkat menjelang bentrok superkrusial lawan Qatar pada kualifikasi piala dunia 2014 zona Asia grup E. malam ini, saat menjamu Qatar, Hamka Hamjah berjanji bermain habis-habisan demi menjaga peluang lolos ke putaran berikutnya.( Sabtu 8 Oktober 2011 Bandung Ekspres hal-20)   







PENGANTAR KAJIAN JURNALISTIK KOMPONEN DAN JENIS PARAGRAF JURNALISTIK

-->


PENGANTAR KAJIAN JURNALISTIK KOMPONEN DAN JENIS PARAGRAF JURNALISTIK


BAB I

PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang


Bahasa jurnalistik atau bahasa Indonesia ragam  jurnalistik juga mempunyai ciri-ciri sendiri yang membedakannya dengan ragam-ragam bahasa lainnya. Ciri-ciri ragam bahasa jurnalistik adalah sesuai dengan tujuan tulisan jurnalistik.[1]


Kata ‘Jurnalistik’ yang ada dalam bahasa inggris di sebut  journalistics, secara harfiah, lazim di artikan sebagai sesuatu yang bersifat kewartawanan atau berkarakter kejurnalistikan, sesuatu yang bertali-temali dengan ihwal wartawan atau jurnalis, sesuatu yang bertautan dengan perihal kejurnalisme-an atau kewartawanan.


Dalam pengertian yang lebih luas lagi, yaitu dalam konteks ilmu komunikasi, jurnalistik dapat juga dipandang sebagai aktivitas menemukan, kegiatan untuk mengolah, dan kegiatan dalam menyebarkan informasiatau berita kepada khalayak banyak lewat sosok media massa cetak. Jurnalistik dalam hal-hal tertentu juga dapat diartikan sebagai keahlian atau kemahiran di dalammengumpulkan informasi terkini dalam sebuah entitas masyrakat, kelompok sosial tertentu , keudian meramu dan merajutnya dengan baik dan dengan rapi. Sehingga rajutan informasi itu dapat di sampaikan kepada khaayak dengan baik, lugas, tajam, cerdas, dan terpercaya.[2]







1.2. Rumusan Masalah


            Fokus Masalah dalam makalah ini, kami memberikan batasan masalah sehingga tidak menyimpang dari apa yang telah menjadi pokok bahasan. Mengacu kepada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi  rumusan masalah:


1.      Apa yang di maksud dengan Komponen Paragraf Jurnalistik?

2.      Apa saja Jenis-Jenis Paragraf Jurnalistik?

3.      Perpautan antarkalimat dalam paragraf jurnalistik ?




1.3 Tujuan


Para pengelola media instansi/perusahaan mampu mengatasi berbagai hambatan dalam menulis sehingga mampu menulis dan mampu menyunting dengan baik, demi kelancaran pekerjaan di kantor maupun dalam rangka menulis naskah untuk media internal instansi/perusahaan.


Agar mahasiswa bisa mengetahui jenis-jenis jurnalistik yang ada dalam pembahasan dan penulisan jurnalis, dan mampu mengemas naskah-naskah biasa menjadi naskah yang layak untuk diterbitkan dan menarik untuk dibaca.[3]





BAB II

PEMBAHASAN


2.1     Pengertian Komponen Paragraf Jurnalistik


Seperti halnya sosok bahasa yang umumnya memiliki hierarki kebahasaan dan unsur-unsur lahiriah (kalimat, frasa, kata, suku kata, dan lain-lain), serta unsur-unsur yang sifatnya non-lahiriah (makna, maksud, proposisi), maka sosok paragraf jurnalistik juga memiliki unsur-unsur demikian itu. Unsur lahiriah paragraf jurnalistik dapat berupa kalimat, klausa, frasa, kata, dan lain-lain. Adapun unsur-unsur non-lahiriah paragraf jurnalistik lazimnya berupa makan atau maksud penulis yang dikandung dalam keseluruhan jiwa paragraf jurnalistik itu. [4]


Wacana dibangun oleh sebuah paragraf atau lebih sebagai bagian dari wacana paragraf dibangun oleh dua kalimat atau lebih yang saling berkaitan, dan memiliki sebuah gagasan. Di dalamnya ada kalimat utama yang berisi gagasan utama dan ada sejumlah kalimat lain tentang keterangan tambahan terhadap gagasan utama itu.Contoh kalimat utama :

“Sekarang di Riau amat sukar mencari terubuk (1). Jangankan telurnya ikannya pun sukar diperoleh (2). Kalau pun ada harganya melambung selangit (3).”


Paragraf tersebut terdiri atas 3 buah kalimat, kalimat (1) adalah kalimat uatama yang menyatakan sulitnya sekarang mencari terumbuk di Ria. Kalimat (2) dan (3) adalah kalimat penjelas terhadap kalimat utama mengenai sulitnya mencari terubuk. [5]

Secara lahiriah, khususnya paragraf jurnalistik jenis non-naratif, lazimnya paragraf itu tersusun dari unsur-unsur berikut ini:

a.       Kalimat topik atau kalimat utama.

b.      Kalimat pengembangan atau kalimat penjelas.

c.       Kalimat penegas

d.      Unsur-unsur transisi.


Keempat macam unsur paragraf jurnalistik tersebut sangatlah medasar dan fundamental untuk menyusun paragraf jurnalistik yang sistematis dan benar-benar rasional, sehingga paragraf jurnalistik itu sungguh-sungguh merupakan kesatuan dan kepaduan yang ekspresif.

Pada bagian-bagian berikut ini, setiap unsur paragraf jurnalistik itu diuraikan satu demi satu, yakni :


1.    Kalimat topik

Ketika anda merancang dan menyusun sebuah paragraf jurnalistik pertama-tama yang harus anda perhatikan ialah kalimat topik. Kalimat topik itu sering disebut juga kalimat utama atau kalimat pokok.

Contoh kalimat topik adalah : “Banyak petani yang merasa puas dengan kenaikan harga jual gabah kering giling tahun ini. Mereka mengekspresikan kegembiraannya dengan mengadakan pesta panen yang agak berlebihan.Siangnya bebepara kelompok reog didatangkan langsung dari Ponorogo dan diminta main sambil diarak keliling kampung.Malam harinya,wayang kulit yang menjadi kesenian leluhur desa itu pun digelar semalam suntuk.”

2.    Kalimat pengembang

Kalimat penjelas atau pengembang, sesuai dengan namanya, bertugas mengembangkan atau menguraikan gagasan pokok yeng terkemas dalam kalimat topik paragraf jurnalistik, sekalipun kaliamat pengembang itu hanya bertugas sabagai peranti penjelas kalimat pokok, jumlahnya paling banyak dan sangat dominan dalam keseluruhan konstruksi paragraf jurnalistik.

Contoh kalimat Pengembang : “Kegiatan KUD di desa-desa yang belum dewasa sering di campuri oleh tengkulak-tengkulak, seperti di Desa Kioro. Semua kegiatan KUD selalu di pantau oleh tengkulak-tengkulak. Kadang-kadang bukan memantau lagi namanya, tetapi langsung ikut serta menentukan harga gabah penduduk yang akan di jual ke koperasi.”


3.    Kalimat Penegas

Kehadiran sebuah kalimat penegas dalam paragraf jurnalistik, sesungguhnya bersifat opsional atau manasuka. Berbeda halnya dengan kalimat topik dan kalimat-kalimat pengembang dalam paragraf jurnalistik, kalimat penegas ini dapat hadir, dapat pula tidak hadir.

Contoh kalimat penegas : “Dia membocorkan rahasia itu”
“Dialah yang membocorkan rahasia itu”


4.    Unsur-Unsur Transisi

Unsur-unsur transisi diperlukan sekali kehadirannya dalam paragraf jurnalistik. Kesalahan yang terjadi, lazimnya ditemukan dalam pemakaian kata-kata transisi.

Unsur-unsur paragraf yang berupa transisi :

Kalimat utama, kalimat penjelass, kalimat penegas, tidak sealu ada dalam sebuah paragraf jurnalistik.

          Contoh: “Lagi pula, di asrama ini kita harus menjaga kebersihan. Kamar mandi kita bersihkan sedikitnya dua hari sekali. Halaman kita sapu bergiliran setiap pagi dan sor. Saluran air pembuangan kita kontrol setiap minggu, demikian pula, sampah harus kita perhatikan, jangan sampai kita membuang sampah sembarangan. Semua sampah, baik sampah besar maupun kecil, kita buang di tempat sampah. Bila sudah terkumpul kita bakar di tempat pembakaran sampah atau kita buang ke tempat pembuangan akhir. Bila perilaku hidup bersih kita lakukan, hidup kita di asrama menjadi aman dan sehat.”


2.2              Jenis-Jenis Paragraf Jurnalistik

Paragraf atau alinea jurnalistik itu ternyata banyak sekali macamnya, dari jenis paragraf jurnalistik yang banyak macamnya itu, kita dapat mengklasifikasi secara lebih jelas, sehingga menjadi lebih mudah dipahami.

Pada bagian berikut ini, setiap jenis paragraf jurnalistik tersebut dijelaskan satu demi satu, anatara lain :

1.    Paragraf Jurnalistik Deduktif

Dalam paragraf jurnalistik deduktif, kalimat utama yang terletak di bagian paling depan paragraf itu dikembangkan dengan pemaparan tertentu, sampai bagian-bagian yang paling kecil. Dengan begitu, kalimat utama yang sifatnya umum diawal paragraf itu akan menjadi jelas, konkret, dan terurai.

Contoh kalimat jurnalistik deduktif : “Tadi pagi sekitar pukul 06.30 WIB satu jenis pesawat berjenis Hercules jatuh di Purwodadi, Madiun, Jawa Timur”. “Pesawat tersebut jatuh di area persawahan dan belum ada data resmi mengenai pesawat tersebut. Namun diduga pesawat tersebut adalah milik TNI Angkatan Udara.”


2.    Paragraf Jurnalistik Induktif

Paragraf jurnalistik induktif dimulai dengan penjelasan tentang beberapa hal yang sifatnya khusus, terurai, detail, terperinci. Penjabaran itu dituangkan kedalam kalimat-kalimat pengembangan yang menempati posisi mulai awal paragraf, hingga menjelang akhir paragraf itu.

Contoh paragraf induktif : “ Pada era kita sekarang ini, teknologi seakan terus berkembang semakin cepa. Tak terkecuali teknologi informasi dan komunikasi yang sepertinya sudah menjadi kebutuhan setiap orang. Oleh karena itu, penguasaan terhadap teknologi informasi dan komunikasi mutlak diperlukan agar kita tidak tertinggal di era global ini.

3.    Paragraf Jurnalistik Kronologis

Paragraf jurnalistik kronologis disusun dengan cara mengurutkan kejadian atau peristiwa yang ada. Kejadian atau peristiwa yang terjadi pertama disampaikan pertama, dan kejadian yang terjadi kemudian dituliskan belakangan.


Contoh paragraf kronologis : “ Membimbing-bimbing anak-anak untuk belajar dan mengatasi kesulitan membaca, anak harus memiliki dorongan semangat dari orang tua maupun orang-orang sekitar.”


4.    Paragraf Jurnalistik Komparatif

Paragraf jurnalistik komparatif dapat disusun dengan cara membandingkan atau mengkomparasikan dua macam hal yang terdapat dalam kalimat utama paragraf.

Contoh paragraf jurnalistik komparatif : “Manfaat olahraga bagi remaja itu cukup banyak, antara lain untuk membentuk tubuh dan otot yang masih dalam masa pertumbuhan meski tidak sudha tidak begitu pesat lagi.”


5.    Paragraf Jurnalistik Pertanyaan

Kalimat topik dalam sebuah paragraf jurnalistik tidak selalu merupakan kalimat pertanyaan, jadi kalimat pokok itu tudak selalu berbentuk kalimat deklaratif.


Contoh paragraf jurnalistik pertanyaan : “Pupus sudah kesempatan memiliki karir cemerlang di perusahaan saat ini, dan semua itu hanya gara-gara beberapa pertanyaan yang tak terpikirkan olehnya.”


6.    Paragraf Jurnalistik Sebab-Akibat

Di dalam literatur tertentu, paragraf jurnalistik yang dikembangkan dengan cara sebab-akibat ini dapat disebut sebab-akibatitu tersusun dari sebuah kalimat topik yang menunjukkan kalimat-kalimat tertentu.

Contoh paragraf jurnalistik sebab-akibat : “Hasil panen para petani di Desa Cikaret hampir setiap musim tidak memuaskan.Banyak tanaman yang mati sebelum berbuah karena diserang hama. Banyak pulatanaman yang tidak berhasil tumbuh dengan baik.”


7.      Paragraf Jurnalistik Contoh

Paragraf jurnalistik contoh disusun dengan cara menjabarkan kalimat topiknya menggunakan kalimat contoh, contoh-contoh tersebut pun tersusun dalam kalimat-kaliamt pengembangan.


Contoh paragraf jurnalistik contoh : “Akhirnya audit investigasi BPK terhadap bank century usai sudah. BPK memberikan keterangan resmi mengenai temuan mereka terhadap aksi “penyelamatan”  bank tersebut oleh pemerintah sehingga biayanya membengkak menjadi Rp.6,7 triliun. Keterangan resmi BPK menyebutkan bahwa BPK menemukan beberapa titik kelemahan BI.”


8.    Paragraf Jurnalistik Pengulangan

Paragraf jurnalistik pengulangan disusun dengan cara memberikan pengulangan-pengulangan tertentu pada kata-kata kuncinya, pada bagian-bagian kalimat tertentunya, yang terdapat dalam kalimat topik paragraf jurnalistik itu.


Contoh paragraf jurnalistik pengulangan : “cobalah untuk meluangkan waktu untuk beberapa saat untuk diri sendiri, gunakanlah kesempatan itu untuk berolahraga. Penelitian menunjukkan bahwa olahraga meningkatkan dorongan dan kepuasan seksual.”


9.    Paragraf Jurnalistik Definisi

Paragraf jurnalistik jenis definisi disusun dengan cara memberikan penjelasan dan pendefinisian atas pengertian tertentu, terhadap kata-kata kunci atau bagian-bagian kalimat tertentu, yang terdapat dalam kalimat topik itu.

Contoh paragraf jurnalistik definisi : “setiap reaksi kimia dan biologi yang terjadi dalam tubuh kita selalu membutuhkan enzim sebagai katalisator, yaitu zat yang memungkinkan terjadinya reaksi tetapi tidak ikut bereaksi.”


10.    Paragraf Juranalistik Perinci

Paragraf jurnalistikperinci atau yang sering disebut juga paragraf jurnalistik rincian, biasanya tidak memiliki pokok bahasan tertentu yang sifatnya khusus.


Contoh paragraf jurnalistik perinci : “Siang itu aku sedang duduk santai di sofa empuk di dalam apotik milikku yang baru saja dibuka. Apotik ini adalah impianku sejak aku kuliah di Farmasi dulu. Sekarang aku memandang puas pada usahaku selama ini. Aku bisa mendirikan apotik di kota kelahiranku. Apotik ini cukup luas, beberapa rak besar tempat obat-obatan berjejer rapi dengan kemasan-kemasan obat warna-warni yang dikelompokkan menurut farmakologinya dan disusun alfabetis.”[6]




2.3              Perpautan Antarkalimat dalam Paragraf Jurnalistik


Sebagaimana telah disampaikan dalam bagian-bagian terdahulu, kallimat-kalimat itu tidak boleh berdiri sendiri secara terpecah. Paragraf jurnalistik harus terdiri atas kalimat-kalimat jurnalistik yang tersusun secara padu dan satu.

Konjungsi atau konjungtor adalah kata atau kataan yang menghubungkan dua satuan kebahasaan sederajat, misalnya kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa.

Dari sisi perilaku sintaksisnya, konjungsi atau kata sambung dalam kalimat jurnalistik itu terbagi dalam empat kelompok besar, yaitu: konjungsi koordinatif, konjungsi korelatif, konjungsi subordinatif , dan konjungsi antar kalimat.

Contoh : “bus Malang Indah pada kalimat kelima direferen atau diacu dengan pronomina demonstratif ini pada kalimat keenam, dan hujan batu tumpah pada kalimat ketiga direferen dengan pronomina demonstratif ini pada kalimat ketujuh.”



1.    Preposisi

Preposisi atau kata depan merupakan entitas kebahasaan yang bertugas menandai hubungan makna antar konstituen yang terletak di depan preposisi tersebut dan konstituen yang terletak di depan preposisi tersebut dan konstituen yang berada di belakangnya.

Proposisi dibagi menjadi 4 jenis :


1. Bentuk: Tunggal dan jamak.

Contoh:

- Dewi Persik bernyanyi dan menari.

- Kakak memancing dan memakan ikan.


2. Sifat: kategorial dan kondisional.

Proposisi kategorial adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikatnya tidak mempunyai syarat apapun.

Contoh:

- Semua bayi menangis di malam hari.

- Setiap rumah memiliki atap.

Proposisi kondisional dibagi menjadi 2 yaitu:

Proposisi hipotesis adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat membutuhkan syarat tertentu.

Contoh:

- Jika lampu menyala, ruangan terlihat terang.

- Jika air dimasukkan ke kulkas maka akan terasa dingin.


Proposisi disjungtif adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat tidak membutuhkan syarat tertentu.

Contoh:

- Meja itu berwarna coklat atau hitam.

- Kakak membaca buku pelajaran atau komik.


3. Kualitas: Afirmatif/positif dan negative.

Proposisi afirmatif adalah proposisi dimana predikatnya mendukung atau membenarkan subjeknya.

Contoh:

- Semua helm dipakai di kepala.

- Semua ayam betina berkotek.

Proposisi negative adalah proposisi dimanan predikatnya menolak atau tidak mendukung subjeknya.

Contoh:

- Tidak ada satupun pria yang memakai rok.

- Tidak ada satupun mahluk hidup yang hidup kekal di dunia ini.


4. Kuantitas: Universal dan spesifik/khusus.

Proposisi universal adalah proposisi dimana predikatnya mendukung atau mengingkari semua.

Contoh:

- Tidak ada satupun kipas angin yang tidak mengeluarkan angin.

- Tidak ada satupun hewan herbivora yang memakan daging.




BAB III

PENUTUP


A.  Simpulan

Secara bahasa, Pers berarti media. Berasal dari bahasa Inggris press yaitu cetak. Apakah media itu berarti hanya media cetak? Tentunya tidak. Pada awal kemunculannya media memang terbatas hanya pada media cetak. Seiring percepatan tekhnologi dan informasi, ragam media ini kemudian meluas. Muncul media elektronik: Audio, audio visual (pandang-dengar) sampai internet. Jadi pers adalah sarana atau wadah untuk menyiarkan produk-produk jurnalistik.

Sedang jurnalistik merupakan suatu aktifitas dalam menghasilkan berita maupun opini. Mulai dari perencanaan, peliputan dan penulisan yang hasilnya disiarkan pada public atau khalayak pembaca melalui media/pers. Dengan kata lain jurnalistik merupakan proses aktif untuk melahirkan berita. Hasil dari proses jurnalistik yang kemudian menjadi teks yang dimuat di media, berupa  berita maupun opini.


B.  Saran


Meningkatkan kemampuan menulis karya jurnalistik belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh mahasiswa jurnalistik. Mahasiswa jurnalistik dalam meningkatkan menulis karya jurnalistik, masih bertumpu pada aktifitas perkuliahan dan pembelajaran dari dosen.








DAFTAR PUSTAKA



Chaer, Abdul. Bahasa Jurnalistik. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya. 2010

Rahardi, Kunjana. Bahasa Jurnalistik. Bogor: PT. Ghalia Indonesia. 2011


http://www.google.co.id/search?q=contohjurnalistik


www.google.co.id/search.contoh+paragraf+jurnalistik


http://ochaaiiu.blogspot.com/2012/06/contoh-kalimat-proposisi.html


[1]Abdul  Chaer, Bahasa Jurnalistik, (Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2010) Hal.02.

[2]Dr. R. Kunjana Rahardi, Bahasa Jurnalistik, (Bogor: PT Ghalia Indonesia, 2011) Hal.05.

[3] http://www.google.co.id/search?q=contohjurnalistik


[4] Dr. R.Kunjana Rahardi, M. Hum. Bahasa Jurnalistik, (Bogor: PT Ghalia Indonesia, 2011)    hal.131.

[5] Abdul  Chaer, Bahasa Jurnalistik, (Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2010) hal.34.



[6] www.google.co.id/search.contoh+paragraf+jurnalistik